ketika matahari hampir tiba, semesta mendengarkan aku membisikkan: tidak ada yang perlu dikejar, mencobalah untuk menjadi baik hingga aku tahu aku akan baik-baik saja. waktu bukanlah lotere tapi hadiah yang selalu melimpah. aku bisa mengambilnya kapan pun lengkap dengan warnanya.
-18 Maret 2011, 20.37 WIB, a friend who is near and dear-
Friday, April 8, 2011
Sunday, March 27, 2011
Kampanye Pepsodent, "Sikat Gigi Pagi+Malam" (2)
Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang kampanye komunikasi pemasaran yang diusung oleh Pepsodent bertajuk "Sikat Gigi Pagi+Malam" yang menampilkan sosok Ayah Adi dan Dika (Irgi Fahrezi dan Dimas) sebagai endorser mereka. Kampanye ini sendiri diluncurkan pada bulan Oktober 2007 dan rangkaiannya masih berjalan hingga saat ini. Terhitung sejak saat itu hingga sekarang secara umum untuk dilihat dari awareness audiens terhadap kampanye ini sangat besar. Indikasinya, audiens dengan mudah dapat melakukan recall pada TVC kampanye ini yang dikemas dalam balutan kehangatan dan komedi khas relasi ayah-anak.
Di tulisan sebelumnya saya cenderung menekankan pada aspek interaksi sosial yang coba dibangun oleh Pepsodent sebagai gambaran bahwa praktek menyikat gigi sebagai salah satu bagian dari aktivitas pengasuhan anak yang umumnya dibebankan pada sosok ibu sesungguhnya juga merupakan beban ayah, dimana tanggung jawab tersebut tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku melainkan melalui cara-cara yang menarik dan lebih jauh lagi dapat menumbuhkan keakraban dan kedekatan antara ayah-anak ditinjau dari segi kualitas maupun kuantitas waktu. Akan tetapi, dalam tulisan kali ini saya akan menekankan tentang tinjauan umum konten kampanye itu sendiri.
Saya berkesimpulan bahwa tujuan dilakukannya kampanye ini ditinjau dari sisi marketing and communication objectivenya tidak semata-mata menekankan pada perolehan profit yang besar dari penjualan. Hal tersebut diindikasikan dari peta porsi dalam kue persaingan berbagai brand pasta gigi. Dalam Top Brand Index 2011 bagian pertama di tahun ini, Pepsodent berhasil mempertahankan posisinya sebagai market leader selama bertahun-tahun di angka 73.6% disusul dengan brand Ciptadent (9.8%), Formula (6.3%), Close Up (6.0%), dan Sensodyne (1.0%). Sehingga tujuan dari kampanye ini di luar tujuan pemasarannya adalah memperkukuh posisinya sebagai market leader, membangun customer relationship, meningkatkan brand loyalty, serta mengedukasi cara berkomunikasi dan edukasi yang menarik dalam membangun kedisiplinan anak menggosok gigi setiap hari.
Membangun kedisiplinan bagi anak untuk menggosok gigi memang bukan perkara yang mudah. Faktor kemalasan anak dan tidak adanya peringatan orang tua pada anaknya diindikasikan merupakan faktor utamanya. Data Riset Kesehatan Dasar (Rikesda) menunjukkan bahwa dari 91.1% masyarakat Indonesia yang menggosok gigi setiap hari hanya 7.3% yang menggosok giginya setelah sarapan dan sebelum tidur. Artinya, masyarakat kita sangat membutuhkan edukasi tentang pentingnya menggosok gigi di pagi dan malam hari, bukan hanya saat mandi pagi dan sore saja.
Melalui kampanye "Sikat Gigi Pagi+Malam", Pepsodent menyuguhkan beberapa tips menarik yang mendorong tidak hanya minat anak untuk menggosok gigi namun juga kehangatan interaksi antara ayah dan anak. Setidaknya ada lima tips yang disuguhkan oleh Pepsodent melalui TVCnya versi Monster, Lagu, Bau Mulut, Gantian, dan Ksatria. Selain itu, Pepsodent juga membuka kesempatan bagi audiens untuk mengirimkan tips dan trik mereka maupun cerita mereka dalam mengimplementasikan tips dan trik yang disuguhkan oleh Pepsodent. Cara tersebut merupakan sarana untuk membangun interaktivitas dan kedekatan antara brand dengan konsumennya.
Media foto juga dimanfaatkan oleh Pepsodent sebagai bagian dari konten websitenya ini. Dengan mengunggah foto kita ke website ini kita dapat melakukan pengeditan sederhana dengan bingkai (frame) menarik bagi anak-anak sekaligus menyimpan file foto tersebut. Melalui website ini, kita juga dapat memperoleh panduan tentang cara menggosok gigi yang benar sesuai dengan umur anak.
Secara keseluruhan, meskipun kampanye ini masih berlangsung dan belum dapat diukur keberhasilannya secara menyeluruh, Pepsodent telah mengusung sebuah konsep kampanye komunikasi pemasaran yang cerdas, edukatif, dan memiliki nilai interaktivitas yang besar. Saya pribadi memprediksi bahwa lewat kampanye ini, Pepsodent tentunya akan kembali mempertahankan posisinya sebagai market leader, serta terjadi peningkatan interaktivitas dengan konsumennya.
Referensi:
http://www.sikatgigipagidanmalam.com/
http://brushdayandnight.com/
Top Brand Index 2011 dalam Majalah Marketing 02/XI/Februari 2011
Images taken from Google and this campaign's website
Membangun kedisiplinan bagi anak untuk menggosok gigi memang bukan perkara yang mudah. Faktor kemalasan anak dan tidak adanya peringatan orang tua pada anaknya diindikasikan merupakan faktor utamanya. Data Riset Kesehatan Dasar (Rikesda) menunjukkan bahwa dari 91.1% masyarakat Indonesia yang menggosok gigi setiap hari hanya 7.3% yang menggosok giginya setelah sarapan dan sebelum tidur. Artinya, masyarakat kita sangat membutuhkan edukasi tentang pentingnya menggosok gigi di pagi dan malam hari, bukan hanya saat mandi pagi dan sore saja.
Melalui kampanye "Sikat Gigi Pagi+Malam", Pepsodent menyuguhkan beberapa tips menarik yang mendorong tidak hanya minat anak untuk menggosok gigi namun juga kehangatan interaksi antara ayah dan anak. Setidaknya ada lima tips yang disuguhkan oleh Pepsodent melalui TVCnya versi Monster, Lagu, Bau Mulut, Gantian, dan Ksatria. Selain itu, Pepsodent juga membuka kesempatan bagi audiens untuk mengirimkan tips dan trik mereka maupun cerita mereka dalam mengimplementasikan tips dan trik yang disuguhkan oleh Pepsodent. Cara tersebut merupakan sarana untuk membangun interaktivitas dan kedekatan antara brand dengan konsumennya.
Selain melalui kontes, kanal lain yang dipilih oleh Pepsodent dalam mengedukasi kedisiplinan anak dalam menggosok gigi dan mengembangkan relasi antara orang tua-anak secara menarik dikemas dalam"Toothometer" dan "Kontrak Perjanjian Menyikat Gigi" antara orang tua-anak. Dalam "toothometer" tersebut dapat dipantau kedisiplinan anak dalam menggosok giginya setiap hari. Sementara itu, melalui "Kontrak Perjanjian Menyikat Gigi" dapat diterapkan sistem reward-punishment antara orang tua-anak berkaitan dengan praktek menggosok gigi mereka. Melalui kontrak ini, anak dihadapkan pada kondisi dimana dia merasa cukup "besar" untuk bertanggung jawab terhadap kontrak tersebut, anak akan memiliki kepercayaan diri dan tercipta keadilan di antara anak dan orang tua.
Selain melalui kedua pilihan kanal tersebut, Pepsodent juga menyuguhkan permainan (games) edukatif melalui websitenya http://www.sikatgigipagimalam.com/ atau versi internasionalnya lewat sosok Pablo&Oliver di http://www.brushdayandnight.com/ serta komik yang dapat diunduh sebagai bahan cerita orang tua pada anak sebelum tidur (bed time stories). Dalam komik tersebut kembali ditampilkan maskot Pepsodent Pepo dan Sigi sebagai tokoh sentral dalam cerita.
Media foto juga dimanfaatkan oleh Pepsodent sebagai bagian dari konten websitenya ini. Dengan mengunggah foto kita ke website ini kita dapat melakukan pengeditan sederhana dengan bingkai (frame) menarik bagi anak-anak sekaligus menyimpan file foto tersebut. Melalui website ini, kita juga dapat memperoleh panduan tentang cara menggosok gigi yang benar sesuai dengan umur anak.
Secara keseluruhan, meskipun kampanye ini masih berlangsung dan belum dapat diukur keberhasilannya secara menyeluruh, Pepsodent telah mengusung sebuah konsep kampanye komunikasi pemasaran yang cerdas, edukatif, dan memiliki nilai interaktivitas yang besar. Saya pribadi memprediksi bahwa lewat kampanye ini, Pepsodent tentunya akan kembali mempertahankan posisinya sebagai market leader, serta terjadi peningkatan interaktivitas dengan konsumennya.
Referensi:
http://www.sikatgigipagidanmalam.com/
http://brushdayandnight.com/
Top Brand Index 2011 dalam Majalah Marketing 02/XI/Februari 2011
Images taken from Google and this campaign's website
Saturday, February 5, 2011
Note For Every Men About Their Woman
The woman in your life...
Tomorrow you may get a working woman, but you should marry her with these facts as well.
Here is a girl,
Who is as much educated as you are. Who is earning almost as much as you do.
Who has dreams and aspirations just as you have, because she is as human as you are.
Who has never entered the kitchen in her life just like you or your sister haven't, as she was busy in studies and competing in a system that gives no special concession to girls for their culinary achievements.
Who has live and loved her parents and brothers and sisters, almost as much as you do for 20-25 years of her life.
Who has bravely agreed to leave behind all that, her home, people who love her, to adopt your home, your family, your ways, and even your family name.
Who is somehow expected to be a master-chef from day #1, while you sleep oblivious to her predicament in her new circumstances, environment, and that kitchen.
Who is expected to make the tea for you, first thing in the morning and cook food at the end of the day. Even she is as tired as you are, maybe more, and yet never ever expected to complain; to be a servant, a cook, a mother, a wife, even if she doesn't want to; and is learning just like you are as to what you want from her; and is clumsy and sloppy at times and knows that you won't like it if she is too demanding, or if she learns faster than you.
Who has her own set of friends and that includes boys and even men at her workplace too, those, who she knows from school days and yet is willing put all that on the back-burners to avoid your irrational jealousy, unnecessary competition, and your inherent insecurities.
And yes, she can drink, dance, and hanging out in the night just as well as you can, but she won't. Simply because you won't like it, even though you say otherwise.
Who can be late from work once in a while when deadlines, just like yours.
Who is doing her best level and wants to make this most important relationship in her entire life a grand success, if you just help her some and trust her.
The one who just wants one thing from you, as you are the only one she knows in your entire house -your unstinted support, your sensitivities, and most importantly your understanding, or love, if you may call it.
But not many guys understand this....
Please appreciate "HER"
I hope you will do.
Tomorrow you may get a working woman, but you should marry her with these facts as well.
Here is a girl,
Who is as much educated as you are. Who is earning almost as much as you do.
Who has dreams and aspirations just as you have, because she is as human as you are.
Who has never entered the kitchen in her life just like you or your sister haven't, as she was busy in studies and competing in a system that gives no special concession to girls for their culinary achievements.
Who has live and loved her parents and brothers and sisters, almost as much as you do for 20-25 years of her life.
Who has bravely agreed to leave behind all that, her home, people who love her, to adopt your home, your family, your ways, and even your family name.
Who is somehow expected to be a master-chef from day #1, while you sleep oblivious to her predicament in her new circumstances, environment, and that kitchen.
Who is expected to make the tea for you, first thing in the morning and cook food at the end of the day. Even she is as tired as you are, maybe more, and yet never ever expected to complain; to be a servant, a cook, a mother, a wife, even if she doesn't want to; and is learning just like you are as to what you want from her; and is clumsy and sloppy at times and knows that you won't like it if she is too demanding, or if she learns faster than you.
Who has her own set of friends and that includes boys and even men at her workplace too, those, who she knows from school days and yet is willing put all that on the back-burners to avoid your irrational jealousy, unnecessary competition, and your inherent insecurities.
And yes, she can drink, dance, and hanging out in the night just as well as you can, but she won't. Simply because you won't like it, even though you say otherwise.
Who can be late from work once in a while when deadlines, just like yours.
Who is doing her best level and wants to make this most important relationship in her entire life a grand success, if you just help her some and trust her.
The one who just wants one thing from you, as you are the only one she knows in your entire house -your unstinted support, your sensitivities, and most importantly your understanding, or love, if you may call it.
But not many guys understand this....
Please appreciate "HER"
I hope you will do.
Labels:
appreciation,
love,
note for men,
relationship
Sunday, January 16, 2011
It Had To Be You
For nobody else give me a thrill
With all your faults I love you still
It had to be you, wonderful you
It had to be you...
With all your faults I love you still
It had to be you, wonderful you
It had to be you...
- It Had To Be You, Harry Connick&Frank Sinatra-
Friday, January 14, 2011
Happy Birthday, Baby D!
I wish you to be a great lover for us, a great son for your parents, a great brother for your sibling, a great grandson for your grandparents, a great nephew for your family, a great future husband, a great dad, a great friend for your friends, a great person for everyone. You know, I do love you.
Happy Birthday, My Baby D. Happy Birthday, My Man. Happy Birthday, My Sunshine.
p.s. Well, I know 22 y.o. is not a boy anymore. But there is no term of "Birthday Man", I guess. Its always "Birthday Boy" and the "Birthday Girl".
Thursday, January 13, 2011
24 Hours To Go For His Day
I just remember we were only 19 y.o when we met and be with together. I just remember, still and always keep his birthday card for me when I was 19, 20, and 21 y.o. I'm gonna have my 22 y.o this September, still eight months to go.
I can't hardly wait to see him getting his present. I can't hardly wait to see him smiling and surprised finding the present I choose. I can't hardly wait to make a wish with him. I can't hardly wait to celebrate his day just the two of us. I can't hardly wait to see him super soon.
Ah, I miss him already.
Saturday, January 8, 2011
You Are What You Tweet: Twitter, Media "Penjujuran" Diri
Tulisan ini sudah ada di kepala saya sejak beberapa bulan yang lalu dan kemudian direfresh kembali setelah berbincang dengan Arien, salah satu sahabat saya beberapa hari yang lalu. Kami membicarakan tentang bagaimana media sosial, khususnya twitter mampu menjadi media "penjujuran" diri bahkan lebih jujur dibandingkan dengan realitas nyata.
Kita sering sekali menemukan beberapa tagar/hashtag di Twitter misalnya berlabelkan #nomention, #abaikan, #random atau tweet yang berisi curhat pribadi. Pada dasarnya, pengguna Twitter yang menuliskan tweet bertagar tersebut hanya mempublikasikan apa yang ingin disampaikannya saja. Namun di balik itu semua, asumsinya apa yang ada di benak mereka dapat diraba melalui tweet tersebut. Dengan kata lain, hampir 90% dari kita dapat kemudian menduga atau membaca perasaan dan pikiran orang lain melalui tweet mereka.
Uniknya, sebagian para pengguna Twitter tersebut dalam dunia nyata mati-matian berusaha tidak ingin perasaan atau pikirannya tersebut diketahui oleh orang lain. Sehingga tweet mereka kemudian sering ditambahi embel-embel #nomention atau tagar-tagar lainnya. Padahal semakin tinggi intensitasnya mengupdate status-status yang provokatif diikuti dengan tagar-tagar tertentu justru semakin mudah perasaan atau pikiran mereka diduga oleh follower yang membaca tweet mereka. Tidak hanya akun Twitter personal, beberapa kuis dan soal-soal via Twitter pun sedikit banyak jika ditilik lagi bisa jadi merupakan curahan hati sang admin atau responden twitter yang mem-publish status tersebut. Tidak salah memang curhat atau berkeluh kesah di Twitter, ini hanya soal cara masing-masing orang mengekspresikan perasaan dan ide-idenya.
Perilaku mengupdate status Twitter merupakan hal yang menarik untuk dicermati. Ada pengguna yang frekuensi updating-nya jarang, sering, bahkan sering sekali hingga mungkin dalam hitungan jam dia sudah mengupdate beberapa status Twitternya beberapa kali. Tentunya updating status Twitter ini bukan tanpa alasan. Hermawan Kartajaya, salah seorang pengamat marketing di Indonesia pernah mengemukakan penemuannya bahwa mayoritas masyarakat (khususnya anak muda) mengupdate statusnya untuk memperoleh perhatian. Mereka senang ketika status mereka direspon dan mampu menimbulkan sebuah perbincangan di dunia maya.
Twitter sebagai sebuah realitas virtual mau tidak mau harus diakui sebagai sebuah media "penjujuran" diri. Twitter menjadi sebuah wadah dimana penggunanya mampu menyingkap kejujuran diri mereka baik sengaja maupun tidak sengaja.
Benar adanya jika sekitar satu dekade sebelumnya realitas maya merupakan hal yang absurd dimana self disclosure menjadi hal yang sangat mewah. Benar adanya jika saat ini kita masih harus tetap waspada dengan identitas virtual yang mungkin menyesatkan. Namun, benar juga adanya jika saat ini Twitter sebagai bagian dari media sosial mampu menyeret realitas nyata ke dalam dunia virtual kita sebagia bagian dari "penjujuran diri" baik sengaja maupun tidak disengaja dalam identitas virtual.
Kita sering sekali menemukan beberapa tagar/hashtag di Twitter misalnya berlabelkan #nomention, #abaikan, #random atau tweet yang berisi curhat pribadi. Pada dasarnya, pengguna Twitter yang menuliskan tweet bertagar tersebut hanya mempublikasikan apa yang ingin disampaikannya saja. Namun di balik itu semua, asumsinya apa yang ada di benak mereka dapat diraba melalui tweet tersebut. Dengan kata lain, hampir 90% dari kita dapat kemudian menduga atau membaca perasaan dan pikiran orang lain melalui tweet mereka.

Uniknya, sebagian para pengguna Twitter tersebut dalam dunia nyata mati-matian berusaha tidak ingin perasaan atau pikirannya tersebut diketahui oleh orang lain. Sehingga tweet mereka kemudian sering ditambahi embel-embel #nomention atau tagar-tagar lainnya. Padahal semakin tinggi intensitasnya mengupdate status-status yang provokatif diikuti dengan tagar-tagar tertentu justru semakin mudah perasaan atau pikiran mereka diduga oleh follower yang membaca tweet mereka. Tidak hanya akun Twitter personal, beberapa kuis dan soal-soal via Twitter pun sedikit banyak jika ditilik lagi bisa jadi merupakan curahan hati sang admin atau responden twitter yang mem-publish status tersebut. Tidak salah memang curhat atau berkeluh kesah di Twitter, ini hanya soal cara masing-masing orang mengekspresikan perasaan dan ide-idenya.
Perilaku mengupdate status Twitter merupakan hal yang menarik untuk dicermati. Ada pengguna yang frekuensi updating-nya jarang, sering, bahkan sering sekali hingga mungkin dalam hitungan jam dia sudah mengupdate beberapa status Twitternya beberapa kali. Tentunya updating status Twitter ini bukan tanpa alasan. Hermawan Kartajaya, salah seorang pengamat marketing di Indonesia pernah mengemukakan penemuannya bahwa mayoritas masyarakat (khususnya anak muda) mengupdate statusnya untuk memperoleh perhatian. Mereka senang ketika status mereka direspon dan mampu menimbulkan sebuah perbincangan di dunia maya.
Twitter sebagai sebuah realitas virtual mau tidak mau harus diakui sebagai sebuah media "penjujuran" diri. Twitter menjadi sebuah wadah dimana penggunanya mampu menyingkap kejujuran diri mereka baik sengaja maupun tidak sengaja.
Benar adanya jika sekitar satu dekade sebelumnya realitas maya merupakan hal yang absurd dimana self disclosure menjadi hal yang sangat mewah. Benar adanya jika saat ini kita masih harus tetap waspada dengan identitas virtual yang mungkin menyesatkan. Namun, benar juga adanya jika saat ini Twitter sebagai bagian dari media sosial mampu menyeret realitas nyata ke dalam dunia virtual kita sebagia bagian dari "penjujuran diri" baik sengaja maupun tidak disengaja dalam identitas virtual.
Labels:
audiens behavior,
media,
social media,
social network,
Twitter
Subscribe to:
Posts (Atom)